Rabu, 04 November 2009

TERJADINYA BEBERAPA VERSI TAROMBO DI SILAHISABUNGAN




salam.
Dalam mempelajari dan untuk memberikan masukan dalam hal kesembrautan sejarah maupun tarombo Pomparan Silahisabungan ini jika kita tidak mengetahui kronologis secara keseluruhan terjadinya masalah ini memang akan banyak timbul kebingungan dan pertanyaan, dan bagi dongan tubu yang tidak perduli dan yang kurang mengetahui cerita ini akan gampang terkecoh dan hanya diam atau mengikut suara mayoritas saja.

Sebenarnya saya tidak mau untuk mengajari para dongan tubu sekalian, tapi sudah menjadi kewajibanku sebagai marga Silalahi untuk menceriterakan kejadian yang berlangsung selama ini dan bisa menjawab seluruh kejanggalan-kejanggalan yang ada.

Sebelum meninggal dunia Silahisabungan telah berpesan kepada anaknya Silalahi sebagai anak tertua bahwa jika dia meninggal nanti akan dikuburkan dekat dengan hula-hulanya Tuan Sorbadijulu (Naiambaton) dan pesan (tona) itupun dilaksanakan Silalahi tentu dengan sepengetahuan ke 8 (delapan) saudara-saudaranya, oleh karena itu semua keturunan Silahisabungan mengetahui di Dolok Parmasan Pangururanlah kuburan/makam Raja Silahisabungan (catatan Raja Frederik Tambunan thn 1896-1898 waktu menjabat Controleur Van Samosir di Pangururan).
Dan begitu juga pemakaian nama yang akhirnya menjadi marga keturunan masing-masing sangat teratur dan saling menghargai walau mungkin ada sebagian yang sakit hati dipacu dengan pembagian dan penamaan harta warisan.
Saat itu hal itu belum kelihatan dan berlangsung biasa-biasa saja terlihat dari keakraban sesama yang bersaudara sesuai dengan parhundul masing-masing.
Namun dalam waktu yang panjang dengan tuntutan situasi dan alam dan tuntutan kehidupan banyak terjadi perpindahan penduduk dari daerah yang satu ke daerah yang lain.

Didalam era yang begitu keras itu tentu banyak persaingan antar etnis yang menimbulkan banyak terjadi penolakan, hal itupun disiasati para pendatang dengan mengganti marganya sesuai dengan marga para penguasa tempat itu, misalnya di Simalungun banyak marga dari Batak Toba merobah marganya menjadi marga Sinaga karena marga itu cukup diterima di Simalungun begitu juga di Karo banyak yang membaur dengan marga setempat.
Begitu juga marga yang tidak begitu dikenal di tempat lain misalnya dari keturunan Silahisabungan marga Sidebang maupun Situkkir dan lainnya dari turunan si 7 turpuk tidak begitu di kenal di Balige tapi Silalahi sangat terkenal dan punya huta di Balige, jadi untuk memudahkan penerimaan dan perkenalan mereka mengatakan bahwa mereka sama dengan marga Silalahi yang artinya sama-sama turunan Silahisabungan, namun seterusnya untuk mendapat akses yang lebih jauh para pendatang ini membuat marga anaknya menjadi marga Silalahi yang akhirnya terjadi marga bapak Sihaloho tapi anaknya bermarga Silalahi, yang kronisnya sejarah itupun tidak di ceritakan kepada generasi selanjutnya hingga banyak yang kehilangan identitas tidak mengetahui marga dan tarombo dia yang sebenarnya.

Penduduk yang masih bertahan di kampung asalnya masih tetap memegang teguh adat istiadat dan menjalankan marga dan partuturan yang sesungguhnya, namun dengan arus dari para perantau yang kebetulan menjadi mampu tidak lagi mengerti dan tidak mengindahkan adat dan partuturan yang sesungguhnya dan pelan-pelan meracuni pikiran penduduk asal hingga terjadi gab diantara keturunan yang sama.

Hal inipun sangat diantisipasi para sesepuh yang tinggal dibonapasogit hingga timbul ide untuk mempersatukan seluruh keturunan Silahisabungan dengan membuat Tugu Peringatan thn 1968. Hal itupun disetujui para keturunannya yang dari perantauan dan kesepakatan terjadi dibuat di Silalahi nabolak mengingat di Silalahi nabolak juga menjadi huta kedua Silahi sabungan setelah huta Tolping.

Ditengah rapat-rapat pembangunan tugu tersebut timbul beberapa masalah yang sangat kronis dimana Silahi Raja (Silalahi) tidak dimasukkan sebagai anak dari Silahi Sabungan begitu juga Istri Silahi Sabungan di buat menjadi hanya 2 (dua) orang yang sebelumnnya ada 3 (tiga) orang, serta keberadaan marga istri kedua Pinggan matio yang tidak jelas Padang batanghari atau Matanari, dari situ mulai tercium adanya unsur-unsur kepentingan dan rasa ingin menyingkirkan yang lain .
Hal itupun sangat kontroversi hingga tidak ada kesepakatan yang membuat turunan Silahi Raja (Silalahi) dan Turunan Raja Tambun/Tambunan memutuskan untuk tidak mengikuti dalam pembuatan tugu tersebut.
Namun dengan kekuasaan yang ada serta dana yang cukup para perantau ini terus melaksanakan pembangunan itu dan berencana untuk memindahkan tulang belulang Silahisabungan yang selama ini ada di dolok Parmasan Pangururan, namun karena tidak disetujui Silalahi dan Pomparan Si raja Tambun hal itupun dilakukan secara simbolis dan Tugu Diresmikan pada thn 1981
Dengan mencantumkan silsilah sbb:

Silahi sabungan dgn istri 2 yakni
1. Pinggan matio boru Padang batang hari
2. Milingiling boru raja mangarerak

Dengan 8 anak dan 1 boru

1. Loho Raja (Sihaloho)
2. Tukkir RaJa ( Situkkir)
3. Sondi Raja (Rumasondi)
4. Butar Raja (Sinabutar)
5. Bariba Raja (Sinabariba)
6. Debang Raja (Sidebang)
7. Batu Raja (Pintubatu)
8. Tambun Raja (Tambunan)
9. Deang na mora

Sejak dari peresmian tugu tersebut resmi sudah tidak tercatat adanya marga Silalahi sebagai turunan dari Silahi Sabungan, tapi mereka menyebutkan bahwa Silalahi itu adalah marga parsadaan/persatuan, namun menjadi aneh kalau parsadaan kenapa tidak dicatatkan atau di ukir dalam tugu tersebut.

Akibat dari pembangunan tugu tersebut banyak keturunan Silahisabungan yang kebingungan tentang tarombonya baik di intern antar marga itu sendiri karena sebagian ada yang mengakui dan memang selama ini dijalankan dengan baik namun akibat rasa solidaritas sesama marga hal itupun didiamkan bagai gunung es dilautan lepas.
Semenjak dari peresmian tugu itu, semua marga dari si 7 turpuk disarankan untuk memakai marga Silalahi di depan marganya begitu juga papan nama di depan rumah masing-masing, walau masih ada yang tetap bertahan membuat marganya yang sebenarnya.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak di inginkan dan menjaga Tarombo yang sesungguhnya dari Silahisabungan Turunan Silahi raja (Silalahi) dan Turunan Raja Tambun berinisiatif untuk memugar kembali kuburan (Tambak) Silahisabungan yang ada di Dolok Parmasan lengkap dengan patung ke 3 istrinya dan relief ke 9 anaknya yakni :

Silahi sabungan dengan ke 3 istrinya :
1. Pintahaomasa boru basonabolon
2. Pinggan Matio boru padangbatanghari
3. Similing-iling boru mangarerak

Dengan ke 9 anaknya yakni:
1. Silahi Raja (Silalahi)
2. Loho Raja ( Sihaloho)
3. Tukkir RaJa ( Situkkir)
4. Sondi Raja (Rumasondi)
5. Butar Raja (Sinabutar)
6. Bariba Raja (Sinabariba)
7. Debang Raja (Sidebang)
8. Batu Raja (Pintubatu)
9. Raja Tambun

Dengan berjalannya waktu Silalahi tetap eksis mempertahankan tarombonya tanpa menghilangkan siapapun dari keturunan Silahisabungan yang di kuatkan oleh Turunan Si Raja Tambun, begitu juga perjalanan hidup si Raja Tambun hingga harus disusui Pintahaomasan boru basonabolon dan perjalanan Raja bunga-bunga hingga tiba di Balige dan menjadi Raja Bunga-bunga Silalahi Parmahan.

Melihat kegigihan Pomparan Silalahi mempertahankan marganya, pihak-pihak yang bersebranganpun mulai bermanuver dengan mengakui adanya marga Silalahi tapi membuat tarombo yang baru yakni dari cucu dan cicit Silahi sabungan dari anaknya Sihaloho dan Rumasondi namun kembali menjadi aneh, marga Cucu/cicit menjadi marga persatuan yang hanya terjadi di keturunan Silahisabungan versi si 7 turpuk. Begitu juga sejarah Raja Tambun yang sebenarnya, diadopsi menjadi versi yang lain dan perjalanan Si raja-bunga-bunga hingga tiba di Balige raja dan menjadi anak dari Tuan Sihubil berganti dengan versi yang janggal dan dipaksakan.

Turunan Silalahi yang ada di Tolping dan yang ada di Pangururan tidak terpengaruh dengan manuver tersebut, namun hal itu jadi membingungkan keturunan Silalahi Parmahan yang ada di Balige, hingga terpecah menjadi 2 kubu, ada yang mengakui turunan dari Silahi Raja, ada yang mengakui turunan dari Rumasondi, hingga tugu Silalahi Parmahan yang ada di Balige terbengkalai lama, namun setelah para ompung-ompung dan raja adat yg mengetahui sejarah itu meninggal semua, baru akhir-akhir ini thn 2008 tugu itu di resmikan secara sepihak oleh yang punya kuasa, begitu juga Turunan Raja Tambun menjadi terpengaruh, banyak yang eksis mempertahankan dan banyak juga yang kebingungan hingga membuat mereka tidak terlalu ikut campur tangan hingga tugu Si raja Tambunpun sampai sekarang terbengkalai.

Hal ini sangat memprihatinkan seluruh keturunan Silahisabungan generasi berikutnya yang entah kapan hal ini bisa di selesaikan secara damai dan kekeluargaan dalam porsi yang sesungguhnya yang tentu dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Dalihan na tolu.

Demikianlah secara singkat perguliran sejarah turun-temurun yang menjadi sarana pengetahuan kepada seluruh Pomparan ni Omputta Silahisabungan di seluruh penjuru desa naualu.

Horas

Biarjo Joseph Silalahi
Par Pintusona

12 komentar:

  1. Rute Perjalanan Silahisabungan dari Balige ke Silalahi Nabolak

    Tuan Sorbadibanua dari istri pertama mempunyai anak yang pertama Sibagotnipohan, kedua Sipaetua, ketiga Silahisabungan, keempat Sirajaoloan dan kelima Raja Hutalima. Sibagotnipohan anaknya yang pertama bernama Tuan Sihubil dengan marga keturunannya Tampubolon. Anak kedua bernama Tuan Somanimbil dengan marga keturunannya Siahaan, Simanjuntak dan Hutagaol. Anak ketiga Tuan Dibangarna dengan marga keturunanya antara lain Panjaitan, Silitonga, Siagian dan Sianipar. Anaknya yang keempat bernama Sonak Malela dengan marga keturunannya antara lain Simangunsong dan Marpaung.

    BalasHapus
  2. Bagian II
    Sejarah mencatat Sipaetua, Silahisabungan dan Sirajaoloan bersepakat meninggalkan saudara mereka Sibagotnipohan di Lumban Gorat-Balige. Kepergian mereka bertiga adalah karena ketersinggungan kepada abangnya Sibagotnipohan yang menyelenggarakan pesta tanpa menunggu kedatangan kembali Sipaetua, Silahisabungan dan Sirajaoloan yang ditugaskan mencari “Haudolok borotan”, “Jujung buhit panganak ni borotan (hiasan borotan) dan “Hotang dauarsa tali-tali ni sitogu horbo” ke hutan belantara dalam rangka pesta “mangaliat horbo santi”.

    Dalam perjalanan Sipaetua, Silahisabungan dan Sirajaoloan meninggalkan Lumban Gorat-Balige tanah kelahiran mereka, Sipaetua akhirnya memilih tinggal menetap di Laguboti dengan marga keturunannya antara lain Hutahaen, Aruan, Hutajulu, Sibarani, Sibuea, Pangaribuan dan Hutapea. Jarak Laguboti dan Lumban Gorat-Balige masih jarak dapat dipandang mata, yang konon walaupun Sipaetua tersinggung kepada abangnya Sibagotnipohan tetapi tidak ada amarah dan sumpah serapah.

    BalasHapus
  3. Bagian III.
    Tinggallah Silahisabungan dan Sirajaoloan balik arah dari Laguboti melanjutkan perjalanan menyusuri daratan dan gunung sejajar pantai Danau Toba melewati Bakara dan terus ke Siogungogung-Pangururan. Sirajaoloan akhirnya memilih tinggal dan kawin di Pangururan dan mempunyai anak bernama Naibaho dan Sihotang. Naibaho adalah marga Bius Sitolu Hae Horbo (marga pemilik tanah dan kerajaan) di Pangururan hingga sekarang ini bersama Simbolon dan Sitanggang. Siogungogung tidaklah subur, tetapi natural beauty tiada bandingannya, karena dari Siogungogung dengan mata memandang akan melihat liuk-liuk danau toba songon pangeal ni dengke namangolu yang dlindungi hutan hijau Bukit Barisan dan dipayungi dolok Pusut Buhit. Sirajaoloan kemudian meninggalkan Pangururan ke Bakara (makin dekat Balige) kawin mempunyai anak bernama Sinambela, Sihite dan Manullang. Jarak Siogungogung apalagi Bakara dengan Lumban Gorat-Balige masih dapat dipandang mata. Sama halnya Sirajaoloan walaupun tersinggung kepada abangnya Sibagotnipohan tetapi tidak ada amarah dan sumpah serapah padanya.

    BalasHapus
  4. Bagian IV.
    Silahisabungan dari Siogungogung masih melihat asap api di Lumban Gorat-Balige. Padahal Silahisabungan karena amarahnya kepada Sibagotnipohan bersumpah dan berketetapan “soara ni takkem naso jadi begeonku jala tippul ni apim naso jadi idaonku” dan Silahisabungan meneruskan perjalanannya menyusuri daratan dan gunung sejajar pantai Danau Toba. Silahisabungan dan Sirajaoloan sapardalanan-sapardangolan sebelum berpisah di Siogungogung bersepakat berkomunikasi dengan sarana alam yaitu apabila Sirajaoloan ada kejadian penting agar memberitahukan kepada Silahisabungan dengan membuat asap api membakar sesuatu, demikian Silahisabungan akan melakukan hal yang sama dari huta yang dituju dan yang dipilihnya.

    Rute lanjutan perjalanan Silahisabungan dari Siogungogung adalah Aek Rangat, Tulas, Bonandolok, Hasinggan, Dolok Sisulusulu, Dolok Lahi dan Huta Lahi di Silalahi Nabolak huta asal-muasal (bonapasogit) seluruh keturunan Silahisabungan dari anak-anaknya yaitu Loho Raja, Tungkir Raja, Sondi Raja, Dabutar Raja, Dabariba Raja, Debang Raja, Batu Raja dan Tambun Raja. Seperti pesan Silahisabungan kepada Sirajaoloan saat perpisahan mereka di Siogungongung, Silahisabungan menetapkan tempat Dapdap di Silalahi Nabolak tempat membakar membuat asap api untuk berkomunikasi dengan adiknya Sirajaoloan seperti dijanjikan.

    BalasHapus
  5. Bagian V.
    Karena kekhususan kisah perjalanan kepergian Silahisabungan dan Sirajaoloan dari Lumban Gorat, maka sesama keturunan Silahisabungan dan Sirajaoloan menyapa marhaha-maranggi walaupun sudah saling mengawini. Sikap saling hormat dan bersapa layaknya abang-adik ini adalah dikarenakan kenangan sapardalanan-sapardangolan yang dipesankan Silahisabungan kepada anak-anaknya dan begitupun Sirajaoloan yang berpesan kepada anak-anaknya serta Siogungogung di Pangururan dan Dapdap di Silalahi Nabolak bukti jalinan janji Silahisabungan dan Sirajaoloan yang hingga sekarang ini ada.

    Walaupun Sibagotnipohan dan Sipaetua adalah abang Silahisabungan dan Sirajaoloan, tetapi tidak pernah keturunan Silahisabungan dan Sirajaoloan menyapa keturunan Sibagotnipohan dan Sipaetua dengan sebutan abang. Bahwa dalam keseharian ada sebagian ketururan Silahisabungan menyapa abang khususnya kepada Tampubolon adalah dikarenakan Tuan Sihubil ayah Tampubolon mengangkat anak Siraja Parmahan cucu Sondi Raja yang diculik suruhan Tuan Sihubil dari tempat penggembalaan Simartaja- Silalahi Nabolak.

    Mengapa keturunan Silahisabungan yang harus diinginkan oleh Tuan Sihubil bukan keturunan Sipaetua dari Laguboti atau keturunan Sirajaoloan dari Bakara yang jaraknya lebih dekat dibandingkan dengan Silalahi Nabolak adalah karena kepada Silahisabungan yang bersumpah “soara ni takkem naso jadi begeonku jala tippul ni apim naso jadi idaonku” Tuan Sihubil harus meminta maaf. Dimana tidak lama kemudian setelah Siraja Parmahan dipatortor dan diangkat anak oleh Tuan Sihubil lahirlah Tampubolon (Tampuknabolon). Siraja Parmahan mempunyai anak 4 (empat) orang dinamai Sihaloho, Sinagiro, Sinabang dan Sinabutar. Nama-nama ini mengingatkan dia kepada anak buyutnya Silahisabungan yang dia tinggalkan di Silalahi Nabolak. Anak Siraja Parmahan menyebut marganya Silalahi juga sebagai mengingatkan kampung asalnya adalah dari Silalahi Nabolak.

    Siraja Parmahan dan keturunannya di Balige dari dahulu hingga saat ini adalah pemilik tanah lebih luas dari seluruh marga yang ada di Balige. Pada acara adat Tampubolon dan Silalahi Siraja Parmahan saling marsiarisan jambar. Karena kebaikan Tampubolon kepada Siraja Parmahan selaku cucu Sondi Raja maka hampir semua keturunan abang dan adik Sondi Raja bersapa abang kepada Tampubolon. Panggilan abang oleh sebagian keturunan Silahisabungan kepada Tampubolon bukanlah karena hubungan abang – adik Sibagotnipohan dengan Silahisabungan. Sebab bila hubungan ini yang menjadi dasar maka bukan hanya Tampubolon tetapi termasuk keturunan Tuan Somanimbil, Tuan Dibangarna dan Sonak Malela.

    Rute perjalanan kepergian Silahisabungan adalah Lumbangorat-Balige, Bakara, Siogungogung-Pangururan, Aek Rangat, Tulas, Bonandolok, Hasinggan, Dolok Sisulusulu, Dolok Lahi dan akhirnya Huta Lahi di Silalahi Nabolak. Tujuan kepergian Silahisabungan adalah mencari tempat nun jauh sejauh Balige tidak tampak. Bukan mencari wanita dan kawin apalagi berketurunan disuatu tempat dimana Balige masih tampak. Karena kalau Silahisabungan pernah kawin dan menetap disuatu tempat sebelum ke Silalahi Nabolak, maka tempat itu harus seluruhnya atau setidaknya sebagian tanah milik dan kerajaan keturunan Silasabungan seperti Naibaho pemilik tanah dan kerajaan di Pangururan.

    Kisah legenda perjalanan Silahisabungan diatas didukung petunjuk, fakta dan bukti yang dapat dikonfirmasi bukan hanya dengan intern warga Silahisabungan tetapi juga dengan keturunan Sibagotnipohan, Sipaetua dan terutama Sirajaoloan. Maka kalau ada yang mengklaim ada yang bernama Silahisabungan kawin disuatu tempat dan makamnya bukan di Silalahi Nabolak, maka pastilah itu bukan Silahisabungan ayah Loho Raja, Tungkir Raja, Sondi Raja, Dabutar Raja, Dabariba Raja, Debang Raja, Batu Raja dan Tambun Raja.

    BalasHapus
  6. Bagian V.
    Karena kekhususan kisah perjalanan kepergian Silahisabungan dan Sirajaoloan dari Lumban Gorat, maka sesama keturunan Silahisabungan dan Sirajaoloan menyapa marhaha-maranggi walaupun sudah saling mengawini. Sikap saling hormat dan bersapa layaknya abang-adik ini adalah dikarenakan kenangan sapardalanan-sapardangolan yang dipesankan Silahisabungan kepada anak-anaknya dan begitupun Sirajaoloan yang berpesan kepada anak-anaknya serta Siogungogung di Pangururan dan Dapdap di Silalahi Nabolak bukti jalinan janji Silahisabungan dan Sirajaoloan yang hingga sekarang ini ada.

    Walaupun Sibagotnipohan dan Sipaetua adalah abang Silahisabungan dan Sirajaoloan, tetapi tidak pernah keturunan Silahisabungan dan Sirajaoloan menyapa keturunan Sibagotnipohan dan Sipaetua dengan sebutan abang. Bahwa dalam keseharian ada sebagian ketururan Silahisabungan menyapa abang khususnya kepada Tampubolon adalah dikarenakan Tuan Sihubil ayah Tampubolon mengangkat anak Siraja Parmahan cucu Sondi Raja yang diculik suruhan Tuan Sihubil dari tempat penggembalaan Simartaja- Silalahi Nabolak.

    BalasHapus
  7. Bagian VI.
    Mengapa keturunan Silahisabungan yang harus diinginkan oleh Tuan Sihubil bukan keturunan Sipaetua dari Laguboti atau keturunan Sirajaoloan dari Bakara yang jaraknya lebih dekat dibandingkan dengan Silalahi Nabolak adalah karena kepada Silahisabungan yang bersumpah “soara ni takkem naso jadi begeonku jala tippul ni apim naso jadi idaonku” Tuan Sihubil harus meminta maaf. Dimana tidak lama kemudian setelah Siraja Parmahan dipatortor dan diangkat anak oleh Tuan Sihubil lahirlah Tampubolon (Tampuknabolon). Siraja Parmahan mempunyai anak 4 (empat) orang dinamai Sihaloho, Sinagiro, Sinabang dan Sinabutar. Nama-nama ini mengingatkan dia kepada anak buyutnya Silahisabungan yang dia tinggalkan di Silalahi Nabolak. Anak Siraja Parmahan menyebut marganya Silalahi juga sebagai mengingatkan kampung asalnya adalah dari Silalahi Nabolak.

    Siraja Parmahan dan keturunannya di Balige dari dahulu hingga saat ini adalah pemilik tanah lebih luas dari seluruh marga yang ada di Balige. Pada acara adat Tampubolon dan Silalahi Siraja Parmahan saling marsiarisan jambar. Karena kebaikan Tampubolon kepada Siraja Parmahan selaku cucu Sondi Raja maka hampir semua keturunan abang dan adik Sondi Raja bersapa abang kepada Tampubolon. Panggilan abang oleh sebagian keturunan Silahisabungan kepada Tampubolon bukanlah karena hubungan abang – adik Sibagotnipohan dengan Silahisabungan. Sebab bila hubungan ini yang menjadi dasar maka bukan hanya Tampubolon tetapi termasuk keturunan Tuan Somanimbil, Tuan Dibangarna dan Sonak Malela.

    Rute perjalanan kepergian Silahisabungan adalah Lumbangorat-Balige, Bakara, Siogungogung-Pangururan, Aek Rangat, Tulas, Bonandolok, Hasinggan, Dolok Sisulusulu, Dolok Lahi dan akhirnya Huta Lahi di Silalahi Nabolak. Tujuan kepergian Silahisabungan adalah mencari tempat nun jauh sejauh Balige tidak tampak. Bukan mencari wanita dan kawin apalagi berketurunan disuatu tempat dimana Balige masih tampak. Karena kalau Silahisabungan pernah kawin dan menetap disuatu tempat sebelum ke Silalahi Nabolak, maka tempat itu harus seluruhnya atau setidaknya sebagian tanah milik dan kerajaan keturunan Silasabungan seperti Naibaho pemilik tanah dan kerajaan di Pangururan.

    Kisah legenda perjalanan Silahisabungan diatas didukung petunjuk, fakta dan bukti yang dapat dikonfirmasi bukan hanya dengan intern warga Silahisabungan tetapi juga dengan keturunan Sibagotnipohan, Sipaetua dan terutama Sirajaoloan. Maka kalau ada yang mengklaim ada yang bernama Silahisabungan kawin disuatu tempat dan makamnya bukan di Silalahi Nabolak, maka pastilah itu bukan Silahisabungan ayah Loho Raja, Tungkir Raja, Sondi Raja, Dabutar Raja, Dabariba Raja, Debang Raja, Batu Raja dan Tambun Raja.

    BalasHapus
  8. horas apara...namaku Victor Silalahi tinggal di medan...makam opung ada di Tambak Silalahi Tolping Ambarita Samosir...boleh tau email apara nih biar bisa kontak apara...makasih bah :)

    BalasHapus
  9. ke tujuh komentar diatas dengan nama pengguna anonim,sepertinya mencoba memberi sedikit penjelasan yang sebenarnya "NGAWUR"dan komentar panjang hingga 7 kolom ini sepertinya sudah sangat familiar saya baca di forum,blog atau diskusi lain nya tentang Tarombo Silahisabungan lain nya.jadi tidak ada yang baru,itu itu saja di copy paste.Horas.

    BalasHapus
  10. klo memang benar silalahi raja anak 1 silahisabungan....kok d tarombo batak ga d tulis ya..??selalu d tulis sihaloho yg 1....kalian pikir tarombo batak itu jga salah ya..??coba d pikir dlu deh...

    BalasHapus
  11. mau tanyak,, sihaloho dan sihotang itu marpadan ga??

    BalasHapus
  12. Semakin orang batak mencoba memperjelas autentisitas tarombo MARGAnya, semakin buram dan runyam penjelasan yang disampaikan. Mengapa demikian? Karena, pertama, pada umumnya orang batak sangat bangga dan bahkan tanpa sadar mengkultuskan marganya. Bahkan pengkultusan tsb layaknya sebagai agama kedua di dalam hidup orang batak. Karenanya, bila ada "pihak lain" yang coba meluruskan tarombo tsb (upaya pembenaran), maka anda harus percaya bahwa orang batak akan melawan mati-matian atau bahkan bisa saja sampai mati benaran demi kebenaran tarombonya. Kedua, bukti-bukti (mis: tulisan dan artefak) yang mandasari penulisan suatu riwayat tarombo marga batak sangat minim, dan banyak bergantung pada hikayat-hikayat (lisan) yang tidak saling mendukung, sehingga sangat sulit untuk dibenarkan secara ilmu pengetahuan. Untuk itu, kalau anda mau melakukan "pembenaran" terhadap suatu tarombo batak, percayalah bahwa anda tidak akan menemukan suatu kebenaran, kecuali hanya suatu "kesepakatan untuk tidak dipersoalkan" (madekdek jarum tu na potpot, ndang diida mata alai diidaroha). Horas.

    BalasHapus